trueblood

•September 14, 2009 • 1 Komentar

adalah seorang ilmuwan dari jepang yang berhasil menemukan darah sintetis, yang kemudian diperjual belikan secara bebas seperti layaknya softdrink. minuman yg berasa dan berkhasiat sama seperti darah segar manusia ini diberi label “true blood“. keberadaan true blood membuat ras vampire menjadi ras yg lebih terbuka dan membaur di masyarakat. tapi apakah dengan adanya true blood yg konon disebutkan lebih sehat daripada darah manusia, para vampire lalu berhenti menghisap darah manusia?
tentu saja hal tersebut hanya terjadi di film serial berjudul sama, yang baru saya tonton beberapa waktu yang lalu. kalau anda tertarik untuk tahu lebih lanjut ya lebih baik browsing saja karena toh saya tidak akan menulis resensi :) . saya hanya tergelitik oleh pertanyaan , jika ada true blood apakah mereka berhenti memangsa kita?
salah satu karakter -humans di serial tersebut menjawab dengan pertanyaan balik kepada sookie si tokoh utama – jujur sokie ini yang membuat saya betah nonton serial 21++ ini :P – kenapa kamu masih minum coke yang tidak sehat sementara ada dietcoke yang berasa sama ?

110909

•September 11, 2009 • & Komentar

sepanjang sejarah saya menulis blog aneh ini belum pernah sekalipun sepertinya saya menulis kan catatan harian saya sendiri. karena sudah sebulan lebih blog ini tidak ter-update dan beberapa tulisan saya masih tertinggal di komputer kantor lebih baik saya mereview kembali apa yang saya lakukan dalam 24jam terakhir ini :)
11.09.09
bangun sahur jam 0430 makan 2 bungkus nasi jinggo+pepes pindang, tidur lagi setelah sholat shubuh dan nelpon nyampah, bangun jam setengah sembilan dan ngenet ga jelas sampai jam 0900,sms an ga penting mandi+siap siap ke kantor. sampai kantor 0930, basa basi sebentar sama temen temen. cek email kerjaan, re-set meeting samui project plot 4 sama gary yg kmaren tertunda. balesi email project manager samui plot 2, . menggerutu sebentar liat email massimo -orang italy penggemar merda- yg jadi reseller pintu buat istana project plot 16, minta kirim floor pattern = harus set meeting sama bos bahas floor cutting yang tertunda 3 bulan,lol . download update gambar struktur 16 jg . koordinasi sama endra yg kekurangan kerjaan,diputuskan dia meng-update roomdetail private cinema dan study room plot 10. menyadari abe belum masuk kantor sehingga detail bar bbq dan wds plot 4 lime samui belum bisa mulai dikerjakan. mengecek drawing register struktur 16 yg dateng nya telat (aneh) mengupdate status di twiter dan cek fesbuk (sempat2nyaa!!). imel temen buat rencana tahun baru (belum juga lebaran udah tahun baru yg dibahas) dan baru sadar sudah hampir 1100 padahal buka cad saja belum, target kirim construction drawing plot 4 lime samui jelas tidak mungkin terkejar, re-schedulle jadwal dulu berarti buat minggu depan. buka cad baru jam 1130 setelah sms an ga penting (lagi). update roomdetail plot 4 lime, lumayan bisa ngurangi beberapa lampu di b.o.h = energy savings :) .1230 berangkat ke masjid jalan kaki sholat jumat dan tidur2an di teras tk deket masjid,ngobrol bahas ga penting,menertawakan laptop kebanting, sms ga penting, twiteran sampai jam 1400. balik kantor mendapatkan beberapa email dari struktur plot 16 yang merevisi gambar yang baru dikirim paginya oleh mereka sendiri (sic!!) dan menginfokan kalo ternyata udah di cor footingnya di satu titik sesuai gambar lama (yg belum kerevisi – hell nooo!!- ) , mengatur paly list winamp dan memutuskan soundtrack hari ini adalah ebiet (hehehe tumben), meeting 15 menit dengan gary jam 1500, hasilnya revisi plot 4 nambah underground , ngisi ruang sisa di bawah bedroom 3 buat jadi maid room dan ngeset ulang b.o.h target kirim ke tokyo sore jam 0600 dan ga ada orang yg bisa dipekerjakan, jadi kerjakan sendiri. ngeset ulang jadwal yg baru dibikin siang tadi (wtf). ngecek fesbuk+ym an sebentar ,selesai drafting pas jam 1700, sholat+jalan2+ngobrol ga penting sampai 17.30. bikin pdf plot 4 , nyiapin email buat owner dan sms an ga jelas (lagi). kirim gambar tepat jam 0600 – pas sesuai target. mereview kerjaan endra, menyiapkan kerjaan buat abe minggu depan dan isacwawes (bulan depan, lol) nutup cad jam 1815 sebelum nyiapin buka puasa , menyadari hari ini ga ada 3 jam di memakai cad nya… pulang sampai kos 1845. 1930 anak kp datang balikin kamera plus ngobrol laptop kebanting. 2030 berangkat nongkrong di angkringan bareng gurudinarmasarif. pulang sampai kos 2300, nelpon ga jelas + ngenet ga jelas + nyelesain baca novel tidur jam 0100. menyadari betapa cepatnya minggu ini berjalan. sms basabasi dan terkapar untuk kemudian bangun lagi jam 0430 ..
thanks God it was friday :)

….

•Agustus 10, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

what was that for?

sabar

•Juni 4, 2009 • & Komentar

sabar : patience : the capacity to tolerate delay, trouble, or suffering without becoming angry or upset.

pesan singkat itu saya terima menjelang dini hari dan terus berulang sampai sore ini,

“mas, kalau masih marah ambil air wudhu dan sholat dua rakaat”

alhamdulillah sore ini terasa lebih cerah dari sore sore yang sebelumnya.

marah

•Juni 3, 2009 • & Komentar

anger :  a strong feeling of annoyance, displeasure or hostlity  (2001, oxford dictionary )

Katanya sifat Marah itu merupakan salah satu sifat dasar manusia, beberapa makhluk hidup kingdom animalia kelas tinggi juga ditenggarai bisa mempunyai sifat ini. Lalu mengapa dalam hal ini saya memutuskan untuk menuliskan kata Marah?, ya mudah saja jawabnya, karena saya memang sedang Marah saat ini, kalau tidak bagaimana bisa saya menyempatkan diri menulis blog yang sudah hampir setengah tahun tidak pernah saya update di pagi pagi buta. Karena mungkin saya terlalu marah untuk bisa menyuruh mata saya untuk sekedar terpejam dan tidur.

kalau boleh ditelaah dengan dalil Newton. Marah itu bagian dari persamaan gaya di dalam diri kita, bolehlah kita anggap marah itu adalah sebuah Gaya respon balik dari diri kita. sesuai persamaan Newton, berarti Gaya tersebut tidak akan muncul kalau tidak ada sebab. Karena Marah adalah Akibat, semua Akibat butuh sebab, maka Marah pun juga butuh sebab. besar kecil nya Marah berbanding lurus dengan deret pangkat besarnya sebab, dengan persamaan sederhana maka jika variabel  Marah adalah M dan total sebab adalah S, maka bisa dibilang M = S, tapi untuk dapat mendapatkan jumlah variable S maka kita harus menjumlahkan s(1)+s(2)+s(3),  mungkin karena saat ini saya terlalu marah makan saya tidak bisa menemukan cara untuk menulis “pangkat” jadi s(2) kita baca sebagai sebab pangkat dua. diluar variabel itu terdapat variabel toleransi atau t , dengan begitu bisa kita simpulkan dan tuliskan bahwa

M = [ s(1)+s(2)+s(3)+s... ] – t

jika anda kurang memahami persamaan tersebut mohon anda baca ulang lagi tulisan di atas, karena saya terlalu Marah saat ini untuk menulis lebih rinci lagi

Mengapa saya Marah? mari kita telaah satu persatu sebab nya untuk dapat mengukur besarnya gaya Marah yang bekerja pada diri saya saat ini.

sebab(1)

saya Marah dengan Bank ini

sebab(2)

, saya Marah

sebab(3)

oke saya utuskan saya Marah dengan diri saya sendiri

semua variable telah terkumpul, dari hitung-hitungan kasar saja kompilasi s1+s2+s3 akan menghasilkan gaya M yang sangat besar, yang jauh lebih besar dari nilai t saya

namun ternyata masih ada beberapa faktor yang lain yang meredam gaya Marah saya, faktor tersebut adalah gaya yang bekerja sejajar dengan S , faktor t adalah t1= teman ngobrol ga penting, t2=teman akrab sejak sma dan t3=teman du seberang negara dan t(4)=merpati kecil yang paling cantik , kompilasi T tersebut memang hanya sedikit mengurangi gaya Marah saya, tetapi karena mereka bekerja sejajar gaya gaya tersebut bisa mengarahkan saya untuk menyalurkan gaya Marah saya ke arah yang lebih baik, seperti menulis blog yang sudah lama saya tinggalkan

Mungkin anda bertanya, mengapa saya mencoba merumuskan Marah dengan dalil persamaan gaya Newton, atau lebih aneh lagi Marah disalurkan dengan menulis, jangan harap saya mau menjelaskan kepada anda sekarang. karena saya sedang Marah dan terlalu Marah untuk menjelaskan semua itu

salam

juni 2009pagibuta marah marah belumtidur

dari mata yang berbeda

•November 6, 2008 • & Komentar

Ketika itu pukul satu siang, Bali sedang panas-panasnya. Sudah beberapa hari ini konon suhunya bisa mencapai 35 C menurut beberapa media yang mewartakan fenomena panas ini. Padahal belum setahun yang lalu diadakan konfrensi internasional bertajuk “climate chage”. Alih-alih mengubah iklim menjadi lebih baik, kebanyakan warga malah berkelakar konfrensi itu sepakat untuk itu mengubah bali menjadi lebih panas dari sebelum sebelumnya.

Sumantri, seorang pemuda tanggung kelahiran banyuwangi sedang duduk duduk di sebuah warung makan kecil di denpasar timur. bersama dua orang temannya yang berasal dari kampung yang sama. Beristirahat sejenak sebelum main main lagi, kelakar mantri yang diamini oleh bambang dan bengir. Karena jam 2 nanti mereka harus kembali bekerja di sebuah proyek pembangunan rumah pribadi yang konon dirancang oleh arsitek kenamaan dari ibukota.

Mantri yang tidak tamat STM datang ke bali 4 tahun yang lalu. Waktu itu sehabis lebaran dia diajak oleh bambang yang 2 tahun lebih tua untuk bekerja di salah satu proyek pembangunan salah satu vila di daerah sanur. Selama beberapa tahun itu mantri mengaku telah ikut bergabung di lebih dari 5 rumah atau vila di seputaran denpasar dan sanur. Bukan rumah biasa seperti di kampungya. Rumah yang dia bangun adalah rumah rumah orang kaya, beberapa malah kepunyaan orang asing yang tinggal di indonesia.

Bekerja di kontruksi selama empat tahun membuat mantri merasa cukup mengerti tabiat orang orang yang bermain di dalamnya. Dia selama ini setia bekerja pada salah satu bos kontraktor yang kebetulan juga berasal dari banyuwangi. Sama sama orang jawa lebih nyaman katanya. Karena dikelola dengan sistem kekeluargaan banyak tukang tukang yang setia bekerja pada bos nya selama lebih dari 5 tahun. Mungkin karena bos itu dulu katanya juga seorang tukang juga.

Menurut mantri hal yang paling ditakuti dan membuat cemas ketikan mereka sedang bekerja adalah saat saat ketika orang orang yang katanya dari kantor konsultan datang memeriksa. Dia sering melihat bos nya dimarahi yang entah karena apa. Pernah di sebuah proyek 2 tahun yang lalu. Dia terpaksa membongkar sesuatu yangbaru saja terbangun dengan alasan yang tidak begitu jelas. Kata mantri hal tersebut bukan sekali dua kali saja terjadi. Padahal dia dan rekannya sudah bekerja sesuai dengan arahan bos nya yang juga hanya berdasar atas gambar yang diberian kepadanya.

Arsitek itu bikin kerjaan kita tambah susah, timpal bengir yang pendiam, kalau kata bambang dulu di kampung dia kerja bikin rumah bisa cepat dan tak pernah salah. Disini seakan akan semua hal yang ada di proyek adalah salah besar ketika orang orang konsultan itu datang. Mereka tertalu peduli dengan hal hal kecil yang susah dilakukan. Padahal tidak terlalu kelihatan nanti kalau jadi. Pakem pakem yang sudah biasa mereka lakukan kadang menjadi salah di sebuah proyek. Apalagi kalau sudah memasuki tahap akhir. Selalu saja ada bongkar pasang yang membuat pekerjaan mereka bertambah.

Jam sudah menunjuk di angka dua. Tiga orang itu berjalan kembali ke proyek. Mereka adalah orang orang yang menjadi ujung tombak di balik nama besar seorang arsitek. Orang orang yang kadang terlupakan dan hanya teringat di saat mereka salah/

Tidak ada salahnya kalau kadang kita melihat dari sudut pandang mereka.

Denpasar, awal november 08

tentang polaroid

•November 2, 2008 • & Komentar

Sore itu berawan di kuta yang ramai, lebih ramai dari sabtu sabtu yang lain di bulan oktober, mungkin hari itu karena sabtu terakhir kuta carnival. Suharyono duduk di pasir sambil menyantap semangkok bakso ayam di bawah pohon.di lehernya menggantung sebuah kamera polaroid 600 yang sudah terlihat agak lusuh. Seperti pada umumnya penjaja kamera, dia membawa tas pinggang yang ia lepas dan ditaruh di sebelahnya. mungkin agar tak mengganggu menikmati baksonya. pandanganya kosong menerawang ke arah rombongan anak sma dari jawa timur yang sedang bergerombol di tepi pantai. kalau hari itu adalah sepuluh tahun yang lalu. suharyono tidak mungkin mau bersantai santai menyantap bakso. pasti dia sudah membaur bersama anak2 sma itu.menawarkan jasa foto polaroidnya. untuk mengabadikan kenangan mereka dalam senja pantai kuta yang romantis. kata Suharyono sekrang jumlah penjaja foto polaroid di kuta hampir bisa dibilang habis. Setahu dia hanya ada tiga orang, mereka pun tidak setiap hari beroperasi. tempat wisata di bali yang masih lumayan penjajanya adalah di uluwatu, di bedugul dan paling banyak di tanah lot.

teknologi mengubah semuanya ujarnya. Suharyono yang sekarang berusia 50an .mengenang jaman jaman kejayaanya dulu sebagai penjaja foto. apalagi waktu masih muda dulu dia beroperasi sampai ke tanahlot, kalau sedang musim liburan. orang yang berwisata di tanahlot lebih berminat untuk berfoto disana dibandingkan dengan di temoat lain kaanya. munki karena memang background pura di pulau karangnya yang legendaris.dulu sehari dia bisa membawa pulang yang lumayan banyak, sehingga bisa membayai sekolah anak semata wayangnya. sekarang anaknya sudah sukses ceritanya, bekerja di kapal pesiar, pulang ke rumah setiap 3 bulan sekali dengan membawa uang yang dulu bahkan belum di rasa terlalu banyak. tak henti hentinya dia bersyukur. sebenarnya anaknya sudah melarangnya untuk menjaja foto di kuta, anaknya bahkan memberinya sebuah kamera digital. hanya saja dia masih berkerashati untuk melakukanya. bukan karena uang katanya, hanya karena dia tidak bisa hanya berdiam diri di rumah saja. dia melakukannya sebatas karena dia suka saja. kadang kalau ada wisatawan yang memanggilnya dia akan mau ditawar seharga harga kertas fotonya saja, yang penting tidak rugi ujarnya. toh kiriman uang dari anaknya sdah lebih dari cukup untuk menghidupinya. Sekarang jaman sudah berubah. kamera digital dan handphone berkamera lah yang paling bertanggung jawab atas kemerosotan penghasilan ada penjaja polaroid. suhar , begitu dia biasa dipanggil merasa termasuk beruntung karena dulu bisa menyempatkan diri untuk menabung sehingga bisa mengangkat anaknya. banak rekan rekan kerjanya yang sekarang hidup prihatin, bahkan banyak yang sudah menjual kameranya untuk menyambung hidupnya.

Sambil menyalakan rokok kreteknya suhar yang hanya tamatan sma itu bercerita, dulu sebelum menjadi penjaja foto dia bekerja sebagai tukang sapu jalan. pada satu hari dia menolong seorang turis yang seingatnya berasal dari belanda. dia membantu turis itu menemukan anak turis tersebut menangis sendiri karena tersesat di denpasar. dengan sepedanya dia antar anak itu kantor polisi dan ke hotel nya. orang tua anak itu memberikan kamera itu sebagai tanda terimakasih. belajar secara otodidak. suhar menghidupi keluarganya dengan kamera itu.

kata suharyono. dulu saya memotret untuk hidup, kalau sekarang saya memotret agar merasa lebih hidup.

sekali tentang bola

•Oktober 23, 2008 • & Komentar

Wayan namanya, saya berbincang bincang denganya di sebuah warung es kelapa muda di dekat jimbaran.pemuda tanggung itu terlihat lelah. sendirian dia memanjat pohon asam jawa setinggi 5 meter untuk memasang bendera merah putih hijau, bendera italia. bendera itu berukuran besar, lebarnya saja 2 meter. wayan membuat sendiri bendera itu.Dia mendapat warna merah dan hijau dari temannya yang membeli di toko kain saudaranya dengan harga miring. kain warna putih dia dapatkan dari pacarnya. kain itu dia jahitkan di kios kecil di sebelah rumahnya. gratis katanya, karena penjahitnya juga mendukungnya. Palang bambu yang dia pakai untuk memasang bendera itu di pohon merupakan sumbangan sukarela dari tetangganya. kata wayan es kelapa muda yang dia minum juga gratis, karena dia telah memasang bendera italia di pohon tempat penjual itu berjualan di bawahnya. Ada sebuah cerita kebersamaan dan persaudaraan di balik kibaran bendera itu rupanya. Bukan bendera merah putih, tetapi bendera merah putih hijau. bendera kebangsaan italia, negara nun jauh disana, yang belum pernah sekalipun Wayan mengunjunginya, bahkan dalam mimpi mimpinya.
Jika anda menyempatkan diri berjalan jalan di seputaran Denpasar pada bulan bulan lalu, mungkin anda akan melihat sendiri bendera bendera berukuran besar dari negara negara eropa sana berkibar kibar di banyak tempat. orang bali tampaknya sedang larut dalam pesta. Pesta piala eropa.Jarak yang begitu jauh antara swiss-austria dengan denpasar seolah hilang dengan adanya televisi. orang orang terbagi bagi dalam kelompok kelompok kecil. mendukung negara negara idolanya, dengan berbagai motivasi mereka membangun ikatan emosional yang kuat. dalam setiap bendera yang berkibar tersebut mungkin ada cerita persaudaraan seperti bendera wayan. sepakbola memang telah membuat orang tergila gila. bahkan seorang sastrawan inggris Nick Hornby pernah berkata, “saya tergila gila dan jatuh cinta seperti sepakbola, seperti saya harus tergila gila dan jatuh cinta pada wanita.” bahkan seorang Albert Camus sang filsuf eksistensialis mengaku belajar dan berhutang pada sepakbola dalam hal keutamaan dan tanggung jawab dalam tugas.
Kemudian apakah wajar, apabila seorang Wayan melakukan hal di atas? dari kacamata nasionalis mungkin dia bisa dikatakan dosa, namun dalam kacamata sepakbola hal itu bisa menjadi hal yang biasa. kalau kata Walter Lutz, sepakbola telah menjadi hiburan manusia. bukan sekadar olahraga. Toh juga nanti sekarang bendera itu telah diturunkan,karena pesta bola telah usai. menyisakan cerita spayol sebagai juaranya . dalam hal ini Saya menyempatkan diri berbicang dengan Beno, seorang penjual jagung bakar yang mengenakan kaos Jerman, yang dikalahkan spanyol. tetapi Beno juga tidak terlalu mengaku kecewa, karena dia sebenarnya pendukung inggris. hanyasaja karena inggris tidak lolos , dia lebih memilih jerman. katanya karena jerman itu musuh abadi belanda. tim yang didukung oleh mantan pacarnya yang sekarang dibencinya.
memang selalu ada cerita di balik bola :)

denpasar. awal agustus 2008
tulisan lama yg file nya baru saja ketemu di komputer kantor :)

Photogenic

•Oktober 11, 2008 • 1 Komentar

Photogenic : looking arractive in photographs

(oxford dictionary 10th edition)

Pada waktu masih duduk di bangku kuliah dulu, saya mengenal seorang sahabat yang bisa dikatakan sangat menarik, cantik malah kalau menurut teman teman saya yang lain. Saya sendiri juga mengakui hal tersebut. Pada beberapa kesempatan, saya mencoba mengambil foto dari teman saya tersebut. Namun saya lebih sering kecewa karena hasil foto foto teman saya tersebut jarang yang bisa menunjukan kalau dia cantik ataupun menarik. Maka jika saya menunjukan foto teman saya tersebut pada orang lain yang belum pernah melihatnya secara langsung, orang itu tidak akan melihat hal yang menarik pada teman saya. Hal tersebut juga pernah saya alami saat saya memotret salah seorang adik kelas saya dalam rangka promosi sebuah produk. Walaupun dia terlihat sangat menarik, dia tidak bisa menunjukan ke-menarikan-nya dalam sebuah foto.

Pada waktu itu saya juga mempunyai teman yang lain yang juga menarik. Meskipun menurut sebagian besar teman saya dia tidak semenarik sahabat saya yang pertama tadi, dia terlihat sangat cantik dan menarik dalam semua foto fotonya. Hampir semua orang yang melihat fotonya akan berpikir bahwa teman saya tersebut adalah seorang model professional yang dipotret oleh fotografer professional dengan peralatan professional, padahal saya hanya memotretnya dengan kamera digital pocket.

Mungkin kejadian kejadian seperti itu pernah dialami oleh anda juga. Mungkin kasus kasus tersebut muncul istilah fotogenik. Seseorang yang fotogenik akan terlihat menarik dalam hampir sebagian besar foto foto nya. Orang tersebut mungkin tidak terlihat semenarik foto fotonya jika kita temui langsung. Sementara itu ada juga orang yang walaupun terlihat menarik dia tidak bisa terlihat semenarik itu di foto.

Pada sebuah kesempatan saya melihat foto foto salah satu karya arsitektur yang diambil oleh teman saya. Dalam foto foto tersebut bangunan tersebut terlihat sangat indah, saya sendiri heran karena saya juga pernah datang ke sana, dan tidak merasa ada yang special dari bangunan tersebut. Bangunan tersebut memang tidak bisa dikatakan jelek. Hanya saja saya dan teman teman saya waktu itu tidak ada yang merasa ada yang special dari bangunan tersebut. Sering juga saya melihat gambar dan foto bangunan yang terlihat sangat menarik sehingga membuat saya tertarik untuk datang sendiri. Namun sering sekali saya harus kecewa karena bangunan tersebut tidak semenarik di fotonya. Namun tidak ada yang bisa mengalahkan kekecewaan saya ketika saya dan salah seorang teman saya datang ke salah satu karya seorang arsitek yang gambar gambar perspektif perancangannya membuat saya dan teman saya tertarik untuk datang langsung ke tempat tersebut. Saya akhirnya sadar kalau hampir semua sudut pandang perspektif tersebut adalah perspektif yang hanya bisa dilihat burung yang terbang atau Tuhan Yang Mahamelihat. Saya tidak pernah mengatakan bangunan bangunan tersebut tidak menarik. Hanya saya merasa ada yang hilang dari bangunan tersebut.

Hal yang sangat berbeda yang saya rasakan ketika saya menyempatkan diri datang ke openhouse salah seorang arsitek yang kebetulan senior jauh saya. Saya benar benar merasakan pengalaman ruang yang sampai membuat saya terkagum kagum dengan permainan cahaya dan material yang ada di sana. Padahal dulu saya pernah tidak begitu tertarik dengan arsitek tersebut karena melihat foto fotonya karya nya seperti terlihat kurang menarik. Saya juga pernah datang ke sebuah gereja bambu sederhana yang membuat saya kagum. Saya sampai merenung beberapa saat di dalam bangunan tersebut, saya sadar bahwa waktu itu saya sedang berada di halaman keimanan orang lain*1. Tetapi saya seperti bisa merasakan jiwa spiritualitas yang dikehendaki oleh perancangnya.

Saya jadi teringat hal semua tersebut setelah membaca email teman saya yang isi nya enam wasiat Eisenman yang ditulis kembali oleh RK*2. Salahsatu hal yang saya tangkap dari artikel tersebut adalah bahwa karya arsitektur seharusnya menjadi sebuah karya tiga dimensional bagi manusia yang ada di dalamnya, dan mampu menghadirkan sesuatu yang bisa menyentuh sisi psikologis dan makna makna di dalamnya yang bisa ditangkap oleh semua indra manusia. Bukan hanya karya yang terlihat bagus dalam selembar frame foto. Bukan hanya sekedar bentuk bentuk geometri yang indah dan rumit. Eisenman sendiri mengkritik banyaknya proses perancangan yang mendewakan computer dan teknologi digital untuk menghasilkan gambar gambar yang indah.

Saya sendiri merasa masih termasuk dalam orang orang yang disinggung oleh Eisenman. Saya banyak membuat gambar gambar yang sekarang saya rasakan menjadi sia sia karena hanya burung terbang yang bisa melihat dari sudut tersebut, dan Tuhan tentusaja. Saya merasa kurang menyelami jiwa dari bangunan bangunan tersebut. Saya sendiri kadang berpikir merupakan victim dari sebuah system yang memang mengharus kan saya berbuat seperti itu. saya kadang merasa, jangan jangan saya termasuk salah satu orang yang hanya bisa membuat bangunan yang terlihat bagus di foto. Bangunan yang fotogenik. namun tidak bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai dalam bangunan saya.

Mungkin berkembangnya software software tiga dimensi inilah yang menyebabkan gejala ini. Software seperti ini memang membuat proses perancangan menjadi jauh lebih cepat dengan kecepatan yang mungkin tak terbayangkan 20 tahun yang lalu. Program program tersebut bisa menghasilkan gambar gambar indah yag menyerupai foto. Sehingga kita seakan berlomba lomba agar bangunan tersebut tampak indah di dalam frame foto tersebut.

Teman teman saya yang melihat frame frame bangunan itu memang memuji dan mengatakan indah. Namun jangan jangan mereka akan kecewa jika datang langsung ke dalam bangunan tersebut. Saya memang merasa kurang mendalami makna makna bangunan bangunan tersebut. Jangan jangan tidak ada nilai rasa yang berbeda dari semua bangunan bangunan tersebut kecuali nilai estetika. Saya sendiri masih belum bisa menemukan jawaban dari lamunan saya tersebut. Saya hanya tak ingin hanya membuat bangunan yang sekedar fotogenik.

Awal ramadhan 2008

matapagi.wordpress.com

*1; kata kata ini diambil dari buku relativitas (adi purnomo)

*2; Ridwan Kamil, principal Urbane Indonesia

sore yang cerah

•September 4, 2008 • & Komentar

Dalam sebuah kesempatan di sabtu sore yang cerah di penghujung bulan Agustus lalu, saya menyempatkan diri berjalan jalan menyusuri pantai sanur. Mungkin karena terlalu dekat dengan tempat saya yang ada di denpasar timur, hanya sekitar 2 kilometer, saya termasuk jarang sekali pergi ke pantai ini. Kuta – seminyak yang berjarak sekitar 5 kilometer lebih sering menjadi tujuan utama saya dan teman teman saya jika ingin berjalan jalan.

Setelah menyusuri pantai sejauh hampir satu kilometer, saya memutuskan untuk beristirahat sambil menikmati segelas air dingin di salah satu kedai yang ada di sana tepat di pinggir pantai. Tempat itu kecil namun tidak bisa dikatakan sempit. Hanya ada 4 meja kayu bulat coklat tua yang sudah mulai memudar warnanya. Setiap meja dikelilingi dua kursi. Rupanya tempat ini diperuntukan bagi pasangan pikir saya. Kedai itu memiliki sebuah meja bar kusam yang ada di sebelah dalamnya. Seorang remaja putri tanggung terlihat membersihkan hiasan hiasan kayu yang sepertinya sudah ada di sana sejak kedai ini berdiri. Hanya ada dua pengunjung yang ada di sana selain saya. Say amengambil tempay di meja yang paling dalam. Sayup sayup terdengar alunan lagu whitney Houston. Saya seperti berada di sebuah tempat yang berbeda dimensi waktu.

Wanita perancis setengah baya berambut perak yang duduk di meja kanan saya terlihat sedang asik membaca novel yang bersampul coklat tua. Kalung manik manik yang dia kenakan mengingatkan saya pada perhiasan perhiasan gipsy yang sering saya temukan di toko toko cendera mata di pasar seni kuta. Dari kerut kerut di wajahnya saya mengira dia sudah berumur tak kurang dari 40an. Dia membawa tas selempang kain merah bermotif bunga bunga putih yang umum ditemui di kios kios di Bali. Pakaian yang dikenakan nya pun bisa dengan mudah ditemui di kios kios itu. Mungkin wanita itu memilih untuk menikmati pulau ini dengan cara mengenakan semua hal yang dia dapatkan disini. Novel yang dia baca pun saya yakin dia dapatkan di salahsatu toko buku bekas yang banyak bertebaran di sanur sampai kuta.

Lamunan saya terpecah oleh suara gelas pecah yang berasal dari meja di depan saya. Tangan renta pengunjung laki laki tua itu tidak sengaja menjatuhkan gelas dari mejanya. Aksen inggris nya terdengar sangat kental ketika dia meminta maaf kepada pelayan yang datang membersih kan pecahan kaca yang tersebar. Dia menyuruh agar gelas tersebut dimasukan dalam tagihan yang nanti akan dia bayar. Dari aksennya yang sedikit terkesan angkuh saya menebak pria ini berasal dari London atau sekitarnya. Dia mengenakan kemeja putih polos berkancing coklat yang dia kenakan seadanya. Celana selutut yang dia kenakan berwana biru kusam. Mungkin dulunya berwarna biru tua. Laki laki itu memiliki wajah khas inggris dengan garis dagu yang tegas dan sorot mata yang tajam. Kerut kerut di wajahnya sedikit menyisakan garis garis ketampanan yang mungkin pernah dia miliki di masa mudanya.

Saya jadi teringat bait puisi yang pernah saya baca di buku catatan pinggir Gunawan Muhamad. “time is a kind of friend, it makes us old”. Waktu pada suatu saat nanti pasti akan mengikis semua yang saya miliki sekarang. Dan mungkin lima puluh tahun yang akan datang, saya adalah seorang tua. Yang duduk menikmati sore di sebuah kedai di tepi pantai yang jauh dari negeri saya berasal, dan diamati secara mendetail oleh seorang pemuda sok tahu yang ada di belakang saya. Kalau hal itu terjadi saya hanya berharap , saat itu saya tidak sendiri.

Langit senja sudah memerah ketika saya berjalan pulang. Jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Dalam keremangan senja, samar samar saya teringat sebuah pertanyaan tentang waktu yang ditanyakan Saint Agustine hampir 15 abad yang dalam otobiografi nya Confession yang saya baca di Akademos (Bagus Takwin,2003)

What, Then, is time? I know well enough what it is, provided that nobody asks me; but id I am asked what it is and try to explain, I am baffled”

sanur,awal ramadhan 2008

*saya terus terang sangat terinspirasi oleh gaya menulis Harper Lee dalam tulisan saya ini. Lee meraih Putlizer Award pada tahun 1961 berkat satu satunya novel yang dia tulis , “to Kill a Mocking Bird”. Sebuah kisah yang sangat indah yang sangat saya sarankan anda untuk membacanya. Kisah ini juga pernah di film kan namun saya lebih menyarankan anda untuk membaca novel nya saja.