sore yang cerah
Dalam sebuah kesempatan di sabtu sore yang cerah di penghujung bulan Agustus lalu, saya menyempatkan diri berjalan jalan menyusuri pantai sanur. Mungkin karena terlalu dekat dengan tempat saya yang ada di denpasar timur, hanya sekitar 2 kilometer, saya termasuk jarang sekali pergi ke pantai ini. Kuta – seminyak yang berjarak sekitar 5 kilometer lebih sering menjadi tujuan utama saya dan teman teman saya jika ingin berjalan jalan.
Setelah menyusuri pantai sejauh hampir satu kilometer, saya memutuskan untuk beristirahat sambil menikmati segelas air dingin di salah satu kedai yang ada di sana tepat di pinggir pantai. Tempat itu kecil namun tidak bisa dikatakan sempit. Hanya ada 4 meja kayu bulat coklat tua yang sudah mulai memudar warnanya. Setiap meja dikelilingi dua kursi. Rupanya tempat ini diperuntukan bagi pasangan pikir saya. Kedai itu memiliki sebuah meja bar kusam yang ada di sebelah dalamnya. Seorang remaja putri tanggung terlihat membersihkan hiasan hiasan kayu yang sepertinya sudah ada di sana sejak kedai ini berdiri. Hanya ada dua pengunjung yang ada di sana selain saya. Say amengambil tempay di meja yang paling dalam. Sayup sayup terdengar alunan lagu whitney Houston. Saya seperti berada di sebuah tempat yang berbeda dimensi waktu.
Wanita perancis setengah baya berambut perak yang duduk di meja kanan saya terlihat sedang asik membaca novel yang bersampul coklat tua. Kalung manik manik yang dia kenakan mengingatkan saya pada perhiasan perhiasan gipsy yang sering saya temukan di toko toko cendera mata di pasar seni kuta. Dari kerut kerut di wajahnya saya mengira dia sudah berumur tak kurang dari 40an. Dia membawa tas selempang kain merah bermotif bunga bunga putih yang umum ditemui di kios kios di Bali. Pakaian yang dikenakan nya pun bisa dengan mudah ditemui di kios kios itu. Mungkin wanita itu memilih untuk menikmati pulau ini dengan cara mengenakan semua hal yang dia dapatkan disini. Novel yang dia baca pun saya yakin dia dapatkan di salahsatu toko buku bekas yang banyak bertebaran di sanur sampai kuta.
Lamunan saya terpecah oleh suara gelas pecah yang berasal dari meja di depan saya. Tangan renta pengunjung laki laki tua itu tidak sengaja menjatuhkan gelas dari mejanya. Aksen inggris nya terdengar sangat kental ketika dia meminta maaf kepada pelayan yang datang membersih kan pecahan kaca yang tersebar. Dia menyuruh agar gelas tersebut dimasukan dalam tagihan yang nanti akan dia bayar. Dari aksennya yang sedikit terkesan angkuh saya menebak pria ini berasal dari London atau sekitarnya. Dia mengenakan kemeja putih polos berkancing coklat yang dia kenakan seadanya. Celana selutut yang dia kenakan berwana biru kusam. Mungkin dulunya berwarna biru tua. Laki laki itu memiliki wajah khas inggris dengan garis dagu yang tegas dan sorot mata yang tajam. Kerut kerut di wajahnya sedikit menyisakan garis garis ketampanan yang mungkin pernah dia miliki di masa mudanya.
Saya jadi teringat bait puisi yang pernah saya baca di buku catatan pinggir Gunawan Muhamad. “time is a kind of friend, it makes us old”. Waktu pada suatu saat nanti pasti akan mengikis semua yang saya miliki sekarang. Dan mungkin lima puluh tahun yang akan datang, saya adalah seorang tua. Yang duduk menikmati sore di sebuah kedai di tepi pantai yang jauh dari negeri saya berasal, dan diamati secara mendetail oleh seorang pemuda sok tahu yang ada di belakang saya. Kalau hal itu terjadi saya hanya berharap , saat itu saya tidak sendiri.
Langit senja sudah memerah ketika saya berjalan pulang. Jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Dalam keremangan senja, samar samar saya teringat sebuah pertanyaan tentang waktu yang ditanyakan Saint Agustine hampir 15 abad yang dalam otobiografi nya Confession yang saya baca di Akademos (Bagus Takwin,2003)
“What, Then, is time? I know well enough what it is, provided that nobody asks me; but id I am asked what it is and try to explain, I am baffled”
sanur,awal ramadhan 2008
*saya terus terang sangat terinspirasi oleh gaya menulis Harper Lee dalam tulisan saya ini. Lee meraih Putlizer Award pada tahun 1961 berkat satu satunya novel yang dia tulis , “to Kill a Mocking Bird”. Sebuah kisah yang sangat indah yang sangat saya sarankan anda untuk membacanya. Kisah ini juga pernah di film kan namun saya lebih menyarankan anda untuk membaca novel nya saja.

50 taun lagi guru masih tambun nggak ya? 8->
*ampun guru..
Mantabs gaya tulisannya bikin para cewek jatuh hati itu he..he.. Aku diajari nulis yuh.
Dua jempol buat kamu,
Slamet W Liono
Kubaca dulu “to kill a mockingbird”ya?:)