tentang polaroid
Sore itu berawan di kuta yang ramai, lebih ramai dari sabtu sabtu yang lain di bulan oktober, mungkin hari itu karena sabtu terakhir kuta carnival. Suharyono duduk di pasir sambil menyantap semangkok bakso ayam di bawah pohon.di lehernya menggantung sebuah kamera polaroid 600 yang sudah terlihat agak lusuh. Seperti pada umumnya penjaja kamera, dia membawa tas pinggang yang ia lepas dan ditaruh di sebelahnya. mungkin agar tak mengganggu menikmati baksonya. pandanganya kosong menerawang ke arah rombongan anak sma dari jawa timur yang sedang bergerombol di tepi pantai. kalau hari itu adalah sepuluh tahun yang lalu. suharyono tidak mungkin mau bersantai santai menyantap bakso. pasti dia sudah membaur bersama anak2 sma itu.menawarkan jasa foto polaroidnya. untuk mengabadikan kenangan mereka dalam senja pantai kuta yang romantis. kata Suharyono sekrang jumlah penjaja foto polaroid di kuta hampir bisa dibilang habis. Setahu dia hanya ada tiga orang, mereka pun tidak setiap hari beroperasi. tempat wisata di bali yang masih lumayan penjajanya adalah di uluwatu, di bedugul dan paling banyak di tanah lot.
teknologi mengubah semuanya ujarnya. Suharyono yang sekarang berusia 50an .mengenang jaman jaman kejayaanya dulu sebagai penjaja foto. apalagi waktu masih muda dulu dia beroperasi sampai ke tanahlot, kalau sedang musim liburan. orang yang berwisata di tanahlot lebih berminat untuk berfoto disana dibandingkan dengan di temoat lain kaanya. munki karena memang background pura di pulau karangnya yang legendaris.dulu sehari dia bisa membawa pulang yang lumayan banyak, sehingga bisa membayai sekolah anak semata wayangnya. sekarang anaknya sudah sukses ceritanya, bekerja di kapal pesiar, pulang ke rumah setiap 3 bulan sekali dengan membawa uang yang dulu bahkan belum di rasa terlalu banyak. tak henti hentinya dia bersyukur. sebenarnya anaknya sudah melarangnya untuk menjaja foto di kuta, anaknya bahkan memberinya sebuah kamera digital. hanya saja dia masih berkerashati untuk melakukanya. bukan karena uang katanya, hanya karena dia tidak bisa hanya berdiam diri di rumah saja. dia melakukannya sebatas karena dia suka saja. kadang kalau ada wisatawan yang memanggilnya dia akan mau ditawar seharga harga kertas fotonya saja, yang penting tidak rugi ujarnya. toh kiriman uang dari anaknya sdah lebih dari cukup untuk menghidupinya. Sekarang jaman sudah berubah. kamera digital dan handphone berkamera lah yang paling bertanggung jawab atas kemerosotan penghasilan ada penjaja polaroid. suhar , begitu dia biasa dipanggil merasa termasuk beruntung karena dulu bisa menyempatkan diri untuk menabung sehingga bisa mengangkat anaknya. banak rekan rekan kerjanya yang sekarang hidup prihatin, bahkan banyak yang sudah menjual kameranya untuk menyambung hidupnya.
Sambil menyalakan rokok kreteknya suhar yang hanya tamatan sma itu bercerita, dulu sebelum menjadi penjaja foto dia bekerja sebagai tukang sapu jalan. pada satu hari dia menolong seorang turis yang seingatnya berasal dari belanda. dia membantu turis itu menemukan anak turis tersebut menangis sendiri karena tersesat di denpasar. dengan sepedanya dia antar anak itu kantor polisi dan ke hotel nya. orang tua anak itu memberikan kamera itu sebagai tanda terimakasih. belajar secara otodidak. suhar menghidupi keluarganya dengan kamera itu.
kata suharyono. dulu saya memotret untuk hidup, kalau sekarang saya memotret agar merasa lebih hidup.

sepertinya saya pernah membaca cerita seperti ini…hehehhe:D
Hah? dimana bay?
lupa,sepertinya majalah atau buku y…dah lama sih
mungkin juga sih, mungkin saja dulu saya pernah membaca sehingga lama secara tak sadar ikut memepengaruhi alam bawah sadar saya untuk menulis dengan metafor yang sama
bagus. like it…
merasa lebih hidup.:)
anw keren mas!!