……

suara adzan subuh sayup-sayup terdengar di pagi buta yang gerimis. bagi sebagian dari kami para perantau di sini, suara adzan itu lebih dari sekadar penanda waktu sholat shubuh. suara sayup-sayup itu membawa hati kami kembali ke kampung asal. tempat dimana adzan terdengar jelas lima kali sehari dari rumah rumah kami. Suara yang dulu (mungkin) tak tampak begitu berarti bagi kami selain sebagai penanda waktu sholat (kecuali adzan magrib d bulan puasa tentunya ). sayup-sayup suara adzan tersebut mengingatkan akan suara adzan yg bersahut-sahutan.
dulu kami tidak pernah merasa kalau kami akan merindukan suara adzan. terus mendengar lima kali dalam sehari menjadi biasa. dan konon segala sesuatu yang menjadi kebiasaan akan semakin luntur nilai “harga”nya. Kata orang, kadang kita tidak akan pernah bisa menghargai sesuatu sebelum kehilangan sesuatu itu. kehilangan selalu memunculkan kenangan. kenangan berkumpul membangun kerinduan. kerinduan menuntun kita untuk membangun imaji semu tentang masa lalu dari kejadian dan kebetulan yang terjadi di masa sekarang.
sayup suara adzan di pagi hari sedikit mengobati kerinduan kami akan kampung kami. tapi juga membangkitkan raksasa raksasa kenangan tentang kampung kami. mungkin suatu saat, ketika kami sudah tidak disini, kami akan merindukan suara adzan yang sayup sayup ini ditengah suara adzan yang saat itu bersahut-sahut lantang.

12.04.11
-untuk seorang teman yang kehilangan seorang teman di hari ini

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.