Jika anda termasuk orang yang suka memasak mungkin anda mengenal dengan baik salah satu bahan pengembang roti yang bernama ragi. Saya sendiri sebenarnya bukan termasuk salah satu orang yang suka memasak, sebenarnya saya sendiri hanya termasuk tipe laki laki yang sangat menghormati wanita yang pandai memasak. Mungkin saya hal ini merupakan ekses dari latar belakang saya yang mempunyai ibu yang merupakan koki yang sangat hebat – saya pernah membaca sebuah kajian psikologi yang menyebutkan kalau sosok seorang ibu akan sangat berpengaruh dalam membentuk figur seorang wanita yang sempurna dalam diri laki laki – . Saya mempunyai seorang teman yang memiliki hobi memasak, untuk mengisi waktu disela sela kuliah yang padat. Pada sebuah kesempatan saya menyempatkan diri untuk menemani teman saya tersebut memasak. Lumayan, itung itung dapat makanan gratis pikir saya. Dalam kesempatan tersebut teman saya memasak sambil bercerita rahasia dia membuat roti yang enak salah satunya adalah dengan memberikan takaran ragi yang tepat pada waktu yang tepat pula. Dan itu membutuhkan pengalaman dan jam terbang memasak yang tinggi untuk mengetahui takaran yang tepat, dan jangan malas untuk membaca buku buku resep.
Ragi merupakan bahan yang berguna untuk mengembangkan adonan roti agar tidak menjadi terlalu padat sehingga lebih enak dinikmati. Roti roti yang dinikmati di Eropa menurut teman saya tidak menggunakan ragi sebanyak roti roti yang biasa kita nikmati di sini. Roti yang adonan nya hanya ditambahkan sedikit ragi akan sangat padat dan liat namun memang lebih mengenyangkan jika dikonsumsi. Berbeda dengan roti yang mengembang yang masih kita padatkan dengan menggegamnya. Dia bercerita salah satu latar belakang mengapa kita lebih menyukai roti yang mengembang daripada roti yang padat tidak bisa dilepaskan dari masalalu kita sebagai Negara jajahan.Karena memang kondisi ekonomi yang masih kekurangan waktu itu maka untuk memberikan hasil roti yang berukuran besar dari tepung gandum yang tidak banyak diberikan ragi dlama takaran yang lebih dari yang dihidangkan untuk kaum penjajah. Karena itu secara sepintas roti pribumi berukuran sama dengan roti kumpeni. Namun jangan berharap kenyang jika makan roti itu, karena hanya banyak berisi udara.
Rupanya budaya memberi ragi yang terlalu banyak telah menjadi seperti kebiasaan dalam beberapa bidang bidang yang lain yang tidak ada hubunganya dengan memasak roti. Setidaknya hal ini yang saya rasakan di dalam bidang saya. Memberikan ragi seperti merupakan cara cepat untuk mengembangkan desain. Yang anda butuhkan hanyalah membeli ( atau meminjam ) majalah majalah tren arsitektur atau buku buku coffe table. Lalu mulailah proses peragian dengan cepat , ambil sini pasang disini , copy disini paste disana , dan jadilah sebuah bangunan impian yang akan membuat klien anda tersenyum bahagia. Sangat mudah memang, anda bahkan tidak perlu untuk repot repot membaca tulisan tulisan yang menyertai gambar gambar di buku atau majalah tersebut. Namun seperti halnya yang terjadi pada roti, bangunan yang terlalu banyak diberi ragi akan menjadi sebuah bangunan yang tidak mengenyangkan karena tidak berisi.
Proses pe”ragi”an ini semakin menjadi jadi ketika arsitektur sudah menjadi komoditas dan masuk ke dalam industri massa (1). walaupun tidak bisa disamaratakan semuanya. Arsitektur yang dihasilkan didominasi oleh dua proses, standarisasi dan individualisasi semu. Hal yang dapat dengan mudah kita tangkap adalah bahwa karya karya yang dihasilkan semakin terlihat mirip antara satu dengan yang lainya. Karya tersebut seperti dapat dipisahkan antara struktur inti dan bagian bagian lainya yang dapat dipertukarkan satu dengan yang lain. Inti tersebut disembunyikan dengan tambahan tambahan sampingan, kebaruan atau variasi gaya yang sudah diduga. Standarisasi merujuk pada kemiripan kemiripan mendasar. Sedangkan individualisasi semu merujuk kepada perbedaan perbedaan yang sifatnya individual.
Saya sendiri bukan orang yang antipati dalam memberikan “ragi” kedalam proses desain karya karya saya. Saya menyadari bahwa “ragi” memang dapat membantu saya dalam proses mengembangkan desain agar menjadi lebih “kaya” dan diterima oleh orang awam tentu saja. Namun saya sendiri masih belum menemukan resep yang baku dalam hal ini. Seperti ketika beberapa waktu yang lalu teman saya tersebut bertanya , bagaimana caranya rahasianya agar dapat membuat karya arsitektur yang baik. Saya jawab rahasianya adalah dengan memberikan takaran ragi yang tepat pada waktu yang tepat pula. Dan untuk mengetahui hal tersebut diperlukan jam terbang yang tinggi dalam mendesain dan jangan malas untuk membaca buku buku resep.
Footnote:
(1) Bagi anda yang mendalami ilmu ilmu budaya populer mungkin sudah akrab dengan Theodore Adorno. Saya ingin mencoba menggunakan pendekatan yang digunakan oleh salah satu tokoh mahzab Frankfurt ke dalam bidang keilmuan saya. Mungkin ada beberapa pihak yang bertanya, untuk apa masih menggunakan mahzab Frankfurt yang sudah lewat dan ketinggalan zaman, cara cara baru banyak yang dirasa lebih baik, bertahan dengan perspektif mahzab Frankfurt kadang dianggap bertahan dengan pendekatan yang picik. Entahlah , perdebatan semacam ini sepertinya tidak akan pernah selesai, seperti perdebatan tentang telur dan ayam.
Dalam hal ini saya memandang arsitektur sebagai bagian dari industri budaya – anda boleh setuju boleh tidak karena saya sendiri belum yakin dengan kata kata saya tersebut Teori yang saya adopsi dalam tulisan ini adalah teori musik pop Adorno (1991, The Culture Industry)
