ragi

•September 3, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Jika anda termasuk orang yang suka memasak mungkin anda mengenal dengan baik salah satu bahan pengembang roti yang bernama ragi. Saya sendiri sebenarnya bukan termasuk salah satu orang yang suka memasak, sebenarnya saya sendiri hanya termasuk tipe laki laki yang sangat menghormati wanita yang pandai memasak. Mungkin saya hal ini merupakan ekses dari latar belakang saya yang mempunyai ibu yang merupakan koki yang sangat hebat – saya pernah membaca sebuah kajian psikologi yang menyebutkan kalau sosok seorang ibu akan sangat berpengaruh dalam membentuk figur seorang wanita yang sempurna dalam diri laki laki – . Saya mempunyai seorang teman yang memiliki hobi memasak, untuk mengisi waktu disela sela kuliah yang padat. Pada sebuah kesempatan saya menyempatkan diri untuk menemani teman saya tersebut memasak. Lumayan, itung itung dapat makanan gratis pikir saya. Dalam kesempatan tersebut teman saya memasak sambil bercerita rahasia dia membuat roti yang enak salah satunya adalah dengan memberikan takaran ragi yang tepat pada waktu yang tepat pula. Dan itu membutuhkan pengalaman dan jam terbang memasak yang tinggi untuk mengetahui takaran yang tepat, dan jangan malas untuk membaca buku buku resep.

Ragi merupakan bahan yang berguna untuk mengembangkan adonan roti agar tidak menjadi terlalu padat sehingga lebih enak dinikmati. Roti roti yang dinikmati di Eropa menurut teman saya tidak menggunakan ragi sebanyak roti roti yang biasa kita nikmati di sini. Roti yang adonan nya hanya ditambahkan sedikit ragi akan sangat padat dan liat namun memang lebih mengenyangkan jika dikonsumsi. Berbeda dengan roti yang mengembang yang masih kita padatkan dengan menggegamnya. Dia bercerita salah satu latar belakang mengapa kita lebih menyukai roti yang mengembang daripada roti yang padat tidak bisa dilepaskan dari masalalu kita sebagai Negara jajahan.Karena memang kondisi ekonomi yang masih kekurangan waktu itu maka untuk memberikan hasil roti yang berukuran besar dari tepung gandum yang tidak banyak diberikan ragi dlama takaran yang lebih dari yang dihidangkan untuk kaum penjajah. Karena itu secara sepintas roti pribumi berukuran sama dengan roti kumpeni. Namun jangan berharap kenyang jika makan roti itu, karena hanya banyak berisi udara.

Rupanya budaya memberi ragi yang terlalu banyak telah menjadi seperti kebiasaan dalam beberapa bidang bidang yang lain yang tidak ada hubunganya dengan memasak roti. Setidaknya hal ini yang saya rasakan di dalam bidang saya. Memberikan ragi seperti merupakan cara cepat untuk mengembangkan desain. Yang anda butuhkan hanyalah membeli ( atau meminjam ) majalah majalah tren arsitektur atau buku buku coffe table. Lalu mulailah proses peragian dengan cepat , ambil sini pasang disini , copy disini paste disana , dan jadilah sebuah bangunan impian yang akan membuat klien anda tersenyum bahagia. Sangat mudah memang, anda bahkan tidak perlu untuk repot repot membaca tulisan tulisan yang menyertai gambar gambar di buku atau majalah tersebut. Namun seperti halnya yang terjadi pada roti, bangunan yang terlalu banyak diberi ragi akan menjadi sebuah bangunan yang tidak mengenyangkan karena tidak berisi.

Proses pe”ragi”an ini semakin menjadi jadi ketika arsitektur sudah menjadi komoditas dan masuk ke dalam industri massa (1). walaupun tidak bisa disamaratakan semuanya. Arsitektur yang dihasilkan didominasi oleh dua proses, standarisasi dan individualisasi semu. Hal yang dapat dengan mudah kita tangkap adalah bahwa karya karya yang dihasilkan semakin terlihat mirip antara satu dengan yang lainya. Karya tersebut seperti dapat dipisahkan antara struktur inti dan bagian bagian lainya yang dapat dipertukarkan satu dengan yang lain. Inti tersebut disembunyikan dengan tambahan tambahan sampingan, kebaruan atau variasi gaya yang sudah diduga. Standarisasi merujuk pada kemiripan kemiripan mendasar. Sedangkan individualisasi semu merujuk kepada perbedaan perbedaan yang sifatnya individual.

Saya sendiri bukan orang yang antipati dalam memberikan “ragi” kedalam proses desain karya karya saya. Saya menyadari bahwa “ragi” memang dapat membantu saya dalam proses mengembangkan desain agar menjadi lebih “kaya” dan diterima oleh orang awam tentu saja. Namun saya sendiri masih belum menemukan resep yang baku dalam hal ini. Seperti ketika beberapa waktu yang lalu teman saya tersebut bertanya , bagaimana caranya rahasianya agar dapat membuat karya arsitektur yang baik. Saya jawab rahasianya adalah dengan memberikan takaran ragi yang tepat pada waktu yang tepat pula. Dan untuk mengetahui hal tersebut diperlukan jam terbang yang tinggi dalam mendesain dan jangan malas untuk membaca buku buku resep.

Footnote:

(1) Bagi anda yang mendalami ilmu ilmu budaya populer mungkin sudah akrab dengan Theodore Adorno. Saya ingin mencoba menggunakan pendekatan yang digunakan oleh salah satu tokoh mahzab Frankfurt ke dalam bidang keilmuan saya. Mungkin ada beberapa pihak yang bertanya, untuk apa masih menggunakan mahzab Frankfurt yang sudah lewat dan ketinggalan zaman, cara cara baru banyak yang dirasa lebih baik, bertahan dengan perspektif mahzab Frankfurt kadang dianggap bertahan dengan pendekatan yang picik. Entahlah , perdebatan semacam ini sepertinya tidak akan pernah selesai, seperti perdebatan tentang telur dan ayam.

Dalam hal ini saya memandang arsitektur sebagai bagian dari industri budaya – anda boleh setuju boleh tidak karena saya sendiri belum yakin dengan kata kata saya tersebut Teori yang saya adopsi dalam tulisan ini adalah teori musik pop Adorno (1991, The Culture Industry)

Daydreamer

•September 2, 2008 • & Komentar

Saya mempunyai seorang rekan wanita yang jauh lebih tua daripada saya. Sebenarnya dia adalah saudara dari salah satu teman saya. Saya sendiri sudah lupa hal apa yang menyebabkan kami menjadi lumayan akrab. Mungkin bahwa kita sama sama menyukai film dan membenci intermilan, entah tidak menjadi sesuatu hal yang penting sekarang. Dia mempunyai seorang anak yang sekarang sudah berada di bangku smp. Beberapa saat yang lalu dia membicarakan perilaku anaknya kepada saya. Dia seperti mengeluh waktu itu. Menurut dia anaknya cenderung suka melamun sendiri, meghayal sesuatu sambil menggambar tidak jelas dan berbicara sendiri. Waktu itu saya dengan bercanda menanggapinya mungkin anaknya sebenarnya tidak berbicara sendiri. Hanya saja dia tidak bisa melihat lawan bicaranya karena berbeda dunia. Dia menolak mentah mentah tanggapan saya ini. Menurut dia putra tungal nya itu terlalu senang menghayal. Putra nya sering melakukan kebiasaan itu sejak masi di sekolah dasar. Dulu dia mengabaikan saja karena dianggapa sebagi bagian dari kreativitas anak kecil. Namun sekarang disaat teman teman sebayanya mulai tertarik pada interaksi sosial yang lebih intens pada individu lain. Dia menggangap hal yang terjadi pada putra nya adalah hal yang salah. Entah lah bagaimana menurut anda. Saya hanya merasa hak yang teman saya rasakan adalah sebuah perasaan protektif yang secara naluri dimiliki oleh orang tua terhadap anaknya sendiri. Kadang memang sering terlalu berlebihan.

Lalu saya bilang pada teman saya. Tidak ada hal yang salah dari putra nya kalau masih suka melakukan kebiasaan tersebut. Karena memang hal itu merupakan impresi dari kreativitas dia. Saya bilang pada teman saya, seharusnya dia bersyukur karena putranya memiliki daya imajinasi yang tinggi. Sehingga dia berbakat sebagai arsitek atau sutradara film. Dia sendiri menolak tanggapan saya, imajinasi yang terlalu tinggi tidak akan mengubah seeorang menjadi dewasa katanya.

Saya lalu menjelaskan apa sebnarnya pekerjaan saya sehari hari. Bagaimana saya duduk berdiam diri di depan computer membayangkan berjalan di sebuah pintu masuk rumah lalu turun melalui tangga. Bagaimana saya seharian hanya membayangkan duduk duduk di ruang keluarga yang ada di tepi kolam renang. Dan bagaimana saya menggambar sebuah ruang tidur sambil saya membayangkan ada sepasang kekasih yang sedang menggunakan jacuzzy di teras nya.

Saya menjelaskan bahwa saya dibayar oleh kantor saya untuk menghayalkan hal hal tersebut. Hal ini yang membedakan saya dengan drafter yang (maaf) dibayar lebih rendah dari arsitek. Jadi sebenarnya pekerjaan saya adalah seorang penghayal , daydreamer.

Dia hanya tertawa mendengar semua penjelasan saya. Tapi dia berterimakasih Karena telah menghiburnya dengan cerita lucu saya dan membesarkan hati nya, dan dia tetap berencana sore itu akan membawa anaknya ke psikolog.

Padahal saya membicarakan hak yang sebenarnya waktu itu , bahwa pekerjaan saya memang seperti itu , namun memang susah sekali menjelaskan bagaimana saya bekerja terhadap orang yang bekerja di bidang lain J. Seperti kata teman saya yang lain, arsitek itu dunia orang orang aneh. Hanya orang aneh yang dapat memahami orang aneh. Benar juga sih kalu dipikir lagi. Karena imajinasi khayalan kita yang kelewat tinggi ,bercandaan kita pun jadi terasa garing dan susah dicerna oleh orang lain.

Ah sudahlah, yang jelas sampai saat ini saya tidak malu kalau ditanya apa pekerjaan saya. I’m a daydreamer

Nb: beberapa waktu kemudian teman saya itu telpon kalau psikolog anaknya menyarankan agar anakny diarahkan untuk menjadi designer, arsitek atau sutradara :)

, dan buat teman saya yang lain yang sedang tugas akhir jangan takut jadi orang aneh, karena menjadi aneh itu gift ,bukan curse :)

Modernism in Informatic Ages

•September 1, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pada kisaran pertengahan bulan juni lalu ada sesuatu hal yang menarik perhatian rekan rekan saya di studio tempat saya bekerja. Hampir setiap minggu (atau setiap hari) ada lebih dari satu mahasiswa dari almamater saya yang mengajukan aplikasi kerja praktek studio ini. Beberapa rekanan saya dengan bercanda mencurigai saya bahwa saya telah menempelkan pengumuman di kampus kalau studio ini membuka lowongan kerja praktek. Tentu saja saya menolak mentah mentah tuduhan itu dengan alasan saya sudah lebih dari 2 bulan tidak pergi ke jogja. Salah seorang rekan menjawab, bisa saja kan kamu imel ke milis kampus kamu, saya terus terang susah untuk mengelak dari tuduhan itu.

Hal ini tentu saja mengusik pikiran saya. Saya lalu mencoba menghubungi salah satu dari mahasiswa tersebut yang kebetulan sudah saya kenal. Dia sendiri bilang bahwa dia sangat tertarik untuk bisa kerja praktek di studio saya setelah melihat website yang menampilkan portofolio studio. Lalu saya tanyakan mengapa dia tertarik, dia bilang bahwa dia menyukai desainnya. Dia bilang desainnya uptodate dan tidak ketinggalan jaman, tidak seperti biro biro lain yang dia tahu di jogja (no offense :) ) dan di kota lain yang dia sebut ketinggalan jaman. Karena saya kebetulan ada urusan lain waktu itu maka saya menyudahi sesi chating saat itu dan berbasa basi untuk melanjutkan besoknya (benar benar menjadi basa basi karena sampai sekarang belum pernah dilanjutkan perbincangan itu :) )

Padahal saya ingin mejelaskan bahwa salah kalau menganggap desain studio saya (akan sebut saja XX untuk lebih mudahnya dalam penulisan ) uptodate. Karena style yang dianut adalah modern , hal ini kadang kadang menjadi rancu bagi orang awam dan bahkan bagi beberapa kalangan mahasiswa arsitek :) . Menurut saudara saya saya, dia menyukai XX karena bergaya minimalis ( mungkin dia terlalu banyak membaca tabloid tabloid yang membahas rumah ). Tidak ada yang salah dalam hal ini memang karena apresiasi alah hak bagi setiap orang – setidaknya beginilah menurut saya – .

Modern dalam hal ini adalah salah satu aliran yang berkembang di asitektur yang mulai berkembang dari awal abad ke 19 dengan beberapa tokoh penting seperi le corbusier, mies dan frank lw. moderenisme mendasarkan pada suatu penolakan (yang kadang radikal) atas segala macam bentuk arsitektur sebelumnya, dan menegaskan bahwa bangunan bangunan harus didesain yang sesuai dengan prinsip yang rasional dan ilmiah. Tentu saja tidak meninggalkan kaidah kaidah estetik. Penggunaan teknologi konstruksi yang muktahir (pada waktu itu tentu saja) seperti concrete , kaca dan baja menjadi satu hal yang bisa dikatakan wajib, karena memang tidak dipungkiri bahan bahan tersebut sangat mewadahi apa yang disebut fungsional dan effisien.

Masa lalu dan konteks menjadi suatu hal yang bisa dibilang diabaikan, karena aliran ini merefleksikan dan menanamkan dinamisme modernitas melalui konstruksi yang raisonal, ilmiah dan teknis dari ruang ruang yang dibangun. Pengabaian terhadap keberadaan konteks lokasi dan budaya telah membuat bangunan bangunan modern seperti berada pada dunianya sendiri. Hampir tidak ada bedanya kalau XX mendesain bangunan di tengah kota di phomh pehn yang padat dengan di pantai phuket yang eksotis atau di pedalaman bali yang masih rimbun. Penggunaan teknik teknik terbaru dalam bangunan yang pada masa modern belum ada sudah diaplikasikan seperti penggunaan roof planter, infinity edge pool dan lain sebagainya.

Bisa dibilang salah besar kalau style dari XX sangat up to date. Karena aliran modern sendiri sudah dilewati oleh aliran postmodern yang berkembang mulai dari pertengahan abad 19 dan mencapai puncaknya di era 80-90an. Postmoderinsme mengubah bangunan menjadi perayaan gaya dan permukaan, memanfaatkan arsitektur untuk membuat drama tentang ruang yang dibangun. Postmodern ini menolak metanarasi yang diistimewakan modernisme. Daripada hanya sekedar membangun atau merancang menurut prinsip prinsip rasional dan ilmiah, postmodern memilih untuk memasukan konteks dimana bangunan itu berada dan menerima definisi definisi kultural dan serta superioritas gaya, dan kadang prinsip prinsip arsitektur lokal. Riset awal kadang dilakukan terlebih dahulu sebelum memulai proses desain. Venturi (1977) telah memandang Las Vegas sebagai salahsatu contoh postmoderenisme.

Padahal pada masa ini saya sendiri tidak tau sedang berada pada era apa. Saya belum menemukan referensi ilmiah untuk menjelaskan fenomena yang sedang terjadi sekarang. Dengan Dubai sebagai panggung utamanya saya melihat sepertinya kita ada dalam sebuah proses transisi ke sebuah arah yang baru. Eissenman sendiri mengemukakan dalam pidato ny di sidang uia beberapa waktu yang lalu di torino (saya mengetahui dari membaca tulisan ridwan kamil yang beredar via milis ) bahwa masih belum ada perdebatan perdebatan yang mengemuka saat ini seperti yang terjadi pada era perubahan modern menjadi postmodern atau saat pemikiran dekontruksi berkobar kobar setelah itu. Beliau sendiri hanya menyebutkan sebagai era pengulangan bentuk bentuk geometris semata.

Saya sendiri lebih suka menyebut saat ini sebagai ekses dari era informasi. Desain prelim yang baru selesai di london bisa dengan mudah dilihat dengan cepat di new york dan dipakai detailnya di jakarta (no offense). Era dimana ketika di pagi hari saya mengirimkan salah satu contoh gambar saya kepada junior saya yang sedang di jakarta, malam harinya dua apikasi kerja peraktek masuk ke studio XX dari mahasiswa di jogja yang tertarik karena gambar yang sama :)

popular culture

•Agustus 26, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Beberapa waktu yang lalu saya chating dengan salah satu teman akrab saya waktu sma. Perbincangan antara dua orang sahabat lama yang sudah lama tidak berjumpa adalah sebuah perbincangan tentang kenangan kenangan masa lalu. Tentang masa masa yang telah lewat dan taakan terulang.

Satu hal yang menjadi topik perbincangan kami adalah tentang sikap kami di masa sma dulu yang menjujung tinggi idealisme , setidaknya begitulah kami menilai diri kami waktu itu. Suatu hal yang konyol memang jika dipikirkan lagi sekarang. Kami menolak untuk mengikuti arus komersialisasi musik remaja yang waktu itu sedang booming hip metal – dengan korn limp bizkit serta linkinpark sebagai pahlawan nya- Kami juga tidak mendengarkan musik pop Indonesia yang kami rasa terlalu cengeng dan komersil (?). kami memuja gun n roses, menyanyikan the beatles dan mendewakan kurt cobain.

Kami baru sadar kalau kami juag merupakan salah satu korban dari komersialisasi musik beberapa tahun kemudian. Lebih parah malah karena kami telah terkotak dalam pasar yang fanatik. Benar benar pikiran anak muda yang emosional waktu itu.

Tetapi ada baiknya juga saya mengalami sendiri hal hal seperti itu. Saya menjadi tertarik untuk mendalami (sekedar membaca sebenarnya) buku buku tentang popular culture atau budaya massa. Masih sebatas pengantar karena saya juga tidak berminat untuk menjelajahi secara lebih dalam lagi

Ada satu buku yang sangat mempengaruhi saya dalam hal ini. Terjemahan karangan Dominic Strinati yang berjudul “introduction to popular culture” yang diterbitkan oleh “penerbit jejak”. Sebagaimana buku2 pengantar pada umumnya buku ini sebenarnya hanya sekedar paduan yang mengenalkan beberapa teori teori budaya populer dan tokoh tokoh nya. Pada setiap bab bab nya selalu mencantumkan paduan bacaan – bacaan lanjutan. Meskipun saya sudah bertekad untuk tidak mendalami lebih lanjut lagi ,saya akhirnya membaca juga mythologies” oleh Roland Barthes. Bukan salah saya karena buku itu hadiah dari seorang teman baik. Menarik karena merupakan kumpulan dari artikel artikel yang dia tulis. Tidak begitu berat dan berteori, malah seperti membaca rubrik samuel mulia di kompas, karena merupakan komentar terhadap kehidupan sehari-hari dan peristiwa serta tren yang sedang berlangsung pada masa itu.

Bagaimanapun juga kedua buku tersebut telah memberikan pengarang terhadap cara pandang dan pemikiran saya, maka saya sangat menganjurkan bagi teman teman arsitek untuk membaca kedua bukum tersebut. Karena arsitektur juga merupakan salah satu bagian dari budaya massa J.

wellcome back

•Agustus 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

yeah akhirnya saya bisa masuk lagi ke blog saya, memang saya terlalu pelupa sehingga melupakan password masuk saya sendiri…:)

pembukaan lagi ada beberapa kutipan yang ingin saya bagi disini.

“typical plan is an American invention, it’s zero-degree architecture,architecture stripped of all traces of uniqueness and specificity. its belong to the new world”
koolhaas,1993

“the plan is primary importance, because of the floor are performed all the activities of the human occupants”
Raymond Hood

“there is no equivalent in any other culture. its the stamp of modernity itself. In the ever-increasing dimension from skin to core-the hidden potential of depth- it proclaims the superiority of the artificial to the real wich remains, whether admitted or not, the true credo of western civilization, the source of its universal attraction.”
koolhaas,1995

“typical plan has made the city unrecognizable, an unidentified object, typical plan is a quantum leap that provokes a conceptual leap: an absence of content in quantities that overhelm,or simply preempt, intellectual speculation”
koolhaas,1995

ruangpublik

•November 18, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

beberapa waktu yang lalu saya berbincang bincang dengan salah seorang adik angkatan saya yang masih kuliah di almamater saya. saat ini dia sedang menegrjakan studio kaawasan. ingatan saya langsung menerawang ke beberapa waktu silam ,saat saya kuliah dulu saya ingat saya pernah terpikir untuk membuat tugas untuk mata kuliah seminar saya, waktu itu salah satu yang sedang menjadi perbincangan hangat di kalangan saya dan teman-teman adalah masalah ruang publik kota, yang lalu akan langsung menuju ke beberapa bantuk seperti : park/taman , square , pedestrian area, dll seperti yang biasa disebutkan dalam beberapa buku yang kita jadikan referensi. namu kadang ada satu yang lupa kita sadari waktu itu, buku-buku itu merupakan tulisan orang yang belum pernah mempelajari kondisi perkotaan dan sosial di indonesia (jogja pada khususnya). padahal jika kita akan bicara dalam konteks kota, mau tak mau kita harus melihat kondisi sosial dan geografis dari kawasan tersebut. latar belakang sosial dari masyarakat akan sangat berpengaruh pada perilaku dab kebiasaan komunal. dan seharusnya lah desain kota yang menyesuaikan dengan perilaku dan kebiasaan tersebut. memang tidak ada salahny kalau kita mengadopsi konsep yang sudah terbukti berhasil di kota-kota besar dunia di sini. bisa saja kita mengangkat alasan sebagai salahsatu sarana public learning,
namun kita juga harus mau melihat kenyataan bahwa beberapa konsep tersebut sudah dibuat oleh beberapa pihak yang berwenang dan terbukti gagal. kita bisa melihat banyak taman kota yang berubah menjadi tempat prostitusi dan banyaknya fasilitas umum yang menjadi korban aksi vandalisme. ruang-ruang publik yang dibangun seakan menjadi percuma karena menjadi tempat tinggal para tunawisma dan trotoar yang ada pun tidak bisa dilewati karena menjadi tempat warung tenda.

sebenarnya ada beberapa perbedaan antara masyarakat kita (jawa khusunya) dengan masyarakat barat tentang persepsi mengenai tata ruang luar. pada kasus yang terjadi di banyak lingkungan kampung kampung di jawa. ruang publik adalah luar di ruang dalam rumah itu sendiri. jadi (apakah ) bisa dibilang halaman rumah kita adalah ruang publik (?)

mungkin juga bisa dibilang begitu karena konsisi sosial masyarakat kita yang jauh lebih erat hubungan antar individu dengan yang lain jika dibandingkan dengan masyarakat barat. hal ini yang membuat kita tidak melihat adanya rancangan square atau park di dalam struktur tatakota jawa kuno (selain alun alun kerajaan tentunya) karena memang masyarakat kita kurang terbiasa dengan sitem ruang publik yang konsentris. dengan masuknya agama islam ke tanah jawa. maka sistem ruang publik mengacu ke masjid dan halaman masjidnya. cara berdakwah para wali jaman bisa dibilang sedikit banyak telah membentuk persepsi mengenai ruang publik itu sendiri.

seiring dengan perkembangan jaman, kampung berubah menjadi desa, desa menjadi kota dan lahan menjadi semakin sempit. maka halam rumah menjadi semakin kecil bahkan berkurang. tapi masrarakat kita masih hidup dalam persepsi ruang publik adalah ruang di sekitar rumahnya. maka jalan di depan rumah menjadi ruang publik yang sesungguhnya bagi masyarakat kiat di pemukiman. hal ini yang mungkin bisa menjelaskan kebiasaan masyarakat kita untuk memakai dan menutup jalan di depan rumah nya kalau sedang menggelar hajatan.

berbekal pemikiran di atas (agak serampangan memang) saya mencoba membuat desain masterplan yang baru untuk studio kawasan saya, berupa pemukiman dengan blok2 kotak (karena masyarakat jawa yangmemakai pola sirkulasi utara selatan barat timur), dengan lebar jalan yang luas (memungkinkan untuk menggelar hajatan tanpa menutup seluruh badan) dan membuat pedestrian ways untuk green area nya serta tidak menyisakan ruang untuk square dan park (seperti yang biasa teman2 saya buat)

memang hasilnya nilai saya seminar saya “C” tapi itu merupakan salah satu produk kuliah yang saya sukai karena saya merasa banyak menggali, bereksplorasi dan berkreasi. bukankah memang itu pekerjaan kita sebagai arsitek? entahlah saya juga merasa masih harus banyak belajar

:)

abstrak (lagi)

•November 4, 2007 • 1 Komentar

beberapa waktu yang lalu, saya membuat proposal untuk side project berupa villa studio di kawasan jimbaran, bali. seperti biasa saya selalu membuat abstraksi desain untuk proposal tersebut. hanya kata kata ringan yang berisi masukan dan penjeasan awal sebab dari konsep yang saya pilih.
abstraks

apakah sebuah konsep tentang bali terus kembali kepada bangunan berbata merah dengan gerbang pura? atau mengikuti arus komersialisasi bali dengan konsep yang sedikit banyak diadopsi dari kawasan pantai mediterania yang juga merupakan kawasan wisata dunia.apakah kita akan puas diri dengan hanya dengan menyeragamkan diri? padahal sebuah spirit kreatifitas merupakan hal yang selalu diagung agungkan dari bali. masih terlalu banyak hal yang belum dipelajari dari dalam bali. dan proses ini akan menjadi konsep dari pencarian jati diri dan pembangunan massa rumah studio. konsep rumah menurut budaya bali tentu akan berbeda dengan konsep tempat kerja mereka. sebuah budaya agraris yang tentu saja belum mengenal kerja di dalam ruang. bagaiman integerasi dari dua konsep yang bertolak belakang akan menghasilkan sebuah konsep ruang bayang bayang diantara tradisi bali dan tuntutan kemajuan. pernahkah kita berpikir lebih jauh tentang sebuah proses pencarian yang terus belangsung di dalam bali sendiri. sebuah detil yang menggunakan material yang disediakan oleh alam dan budaya bali sebagai kulit bangunan. tentang batu karang, batu kali pipih, tanah liat sesaji atau kayu bakar?

mari berbelanja di warung

•Oktober 31, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

mulai beberapa waktu yg lalu, saya mulai membiasakan diri untuk pergi ke warung atau kios d pinggir jalan kalau memutuhkan sesuatu. sebuah hal yang agak baru(tapi lama) mengingat salah satu hobby saya dulu (sampai sekarang…) adalah nongkrong sampai lewat tengah malam (subuh kadang) di circleK . sedikit aneh memang di mata sebagian teman-teman saya, (yang biasa pergi ke mall hanya untuk membeli odol dan ke carefour untuk berbelanja bahan makanan).
jika dibandingkan, memang kadang harga-harga di carefour atau tempat-tempat sejenis (jauh) lebih murah daripada di warung seberang jalan rumah kita atau di pasar tradisional sekalipun. hal ini yang menyebabkan pasar-pasar tradisional semakin terpinggirkan. Apalagi di kota-kota besar dimana jaringan waralaba (seperti minimart, circleK ,dsb ) sudah tersebar di area pemukiman. jaringan-jaringan tersebut mampu menjual dengan harga yang kadang jauh lebih murah karena memang mereka dapat membeli langsung dari produsen dengan harga yang lebih rendah. hal ini dimungkinkan karena mereka dapat membeli dalam partai besar, dan memutus beberapa rantai distribusi dengan cara langsung mengikat kontrak dengan produsen produk (unilever misalnya).
pihak yang paling diuntungkan dalam hal ini tentu saja adalah kita para konsumen karena dapat mendapatkan barang dengan lebih murah dan berbelanja di tempat yang nyaman. namun ada juga pihak yang akan sangat terpukul dengan banyaknya waralaba minimarket dan toko grosir tersebut. keberadaan jaringan megagrosir di suatu kawasan akan mematikan pasar tradisional di kawasan tersebut. hal ini akan sangat berpengaruh pada berkurangnya pendapatan pedagang pasar tersebut. yang akan sangat berpengaruh pada pendapatan para pemasok barang di pasar tersebut. Namun pihak yang paling terpukul adalah pemilik warung kecil yang biasa berbelanja di pasar tardisional. Secara harga mereka sudah jelas tak mungkin lagi biasa bersaing dengan jaringan-jaringan tersebut. bayangkan ada berpuluh-puluh (atau bahkan beratus) orang yang akan mengalami penurunan penghasilan atau kehilanagn pekerjaan jika hal ini terus berlanjut. secara ekonomi, hal ini akan sangat merugikan karena perputaran uang di kawasan ini akan lebih cepat. karena akan jika kita membeli di jaringan besar, uang tersebut sebagian besar akan mengalir langsung ke pusat, atau bahkan ke luar negeri. Sedangkan uang yang kita belanjakan di warung akan lebih lama berputar karena akan melewati beberapa pihak.
saya sendiri tidak anti mall atau pusat perbelanjaan, karena kadang juga masih sering berbelanja kesana karena pertimbangan ekonomis bagi saya. namun saya juga mulai membiasakan diri untuk membeli kebutuhan-kebutuhan kecil atau jajanan di warung saja. dan mulai mengajak teman-teman untuk melakukan hal yang sama. bayangkan berapa pihak yang dapat kita bantu dengan membeli barang di warung kecil depan rumah kita. satu hal yang pasti tidak akan kita dapatkan di minimarket adalah obrolan dan senyum tulus yang menjada silaturahmi kita dengan lingkungan sekitar kita. suatu hal yang kadang susah kita dapatkan di dunia kita yang selalu ingin berputar terlalu cepat. karena itu mari kita berbelanja di warung

lamunan malam ini tidak bertujuan untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu, hanya saat ini saya baru mencoba untuk menulis dengan bahasa yang agak lebih serius. untuk mengisi waktu sebenarny karena saya harus memprint puluhan gambar malam ini untuk dikirim ke tokyo dan bangkok besok pagi. semoga saja berkenan
salam

absract

•Oktober 31, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

about 3 months a go i submitted for international housing competition with several fellas. i really love to came into a competition, cause this is the place for me to get share my idea and opinion. this abstraction bellow was wrote both of my discussion between i and my friends called basuki a.k.a kobas. he was in japan. he’s cool guys with cool perspective ! here there are!

abstarction

The future that holds the faith of human being will be, to put it in a simple term, is a future that shaped by the process that we’re currently undergo. Globalization, still and will be the key factor that trigger the advancement on human civilization. When borders of countries becoming a merely political borders, rather than a marking of territorial properties, when distance between two places seems to be shrinking, transporting from one place to another takes less and less time, people being global more than local/ national, those times represent the image of a future, a near future. A condensed world we’re not so far away from that becoming reality, in fact, that is what we currently experience, but expect a more intense situation in the future.
New York, Hong Kong, Rotterdam, Dubai, Shanghai, Yokohama, Singapore, those cities are the role players/ witnesses of the development of the world, not only in terms of economy, but also human and culture interactions, with their strategic locations, some as entry points, some as transit hubs, but they serve the same purpose, distributions.
And as the trend on the economic world predicts, the continent of Asia, nicknamed the sleeping giant, will slowly awake and prepare to reign. What we’re witnessing now, the city of Shanghai with all the rush on developing their land into lines of skyscrapers, somehow losing its character of “being in China”, Dubai with the non stop building of testaments on contemporary architecture, bringing the big names in the world of architecture to freshen their image and keep it fresh for the future, taking the similar route as what we saw France under the rule of Mitterand, Singapore with the huge potential of connecting the South East Asia and down under with the rest of the world, are the ingredients of a future in progress.
Along the way, there are issues arise.Within the development of the cities recently, especially those in developing countries (note: as seen in Indonesia, for example) it seems inevitable for the core of them being quasi-public and profit oriented spaces such as commercial centers, shopping malls, cafes, high rise offices, the neighborhood we used to know are being pushed to the perimeter, leaving a longer distance for people to commute. Places where people used to chat for free then changed into billed ones, spreading in the forms of street cafes and restaurants.The sociable atmosphere once there now changed. With the future bring drastic changes, creating similar identities upon cities, upon regions, upon countries, upon spaces, at that time; we will share the same common language, effectiveness and efficiency.
But, don’t we miss the past and all its glory?

matapagi?

•Januari 3, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

mengapa matapagi?

karena matahari pagi dirasa telalu panjang sebagai sebuah domain..

mengapa matahari pagi?

karena matahari pagi selalu membawa sinar hangat yang menyalakan asa tuk terus berkarya dan mencinta